Arti Pertemuan

Aku terlalu percaya pada sinkronisasi yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan aku selalu mengatakan ke siapapun yang menuliskan dan/atau mengatakan, “what a coincidence!” dengan jawaban datar, “there is no such thing as coincidence.”

Mungkin dulu (baca: saat usiaku 20 tahun) aku termasuk seseorang yang belum mau tahu dan tidak peduli akan adanya sinkronisasi yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Aku termasuk dalam barisan yang percaya bahwa kehidupan yang kita jalani hari per hari adalah sebuah rutinitas, hingga aku menyaksikan bahwa setiap harinya, tidak ada hal yang terjadi persis sama – dengan tingkat presisi dan detail yang terpaut 0,0001%. Selalu berubah. Dinamis. Baru. Menantang. Sinkron! Yes, sinkronisasi! Kenapa kok sinkronisasi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinkron dan sinkronisasi itu berarti:
sinkron/sin·kron/ a 1 (terjadi atau berlaku) pada waktu yang sama; serentak: pertumbuhan badan tidak terjadi secara — atau dalam kecepatan yang sama di seluruh badan; 2 sejalan (dengan); sejajar; sesuai; selaras. program tersebut tampaknya kurang — dengan kebijakan pemerintah pusat; pembangunan harus — dengan kebutuhan rakyat;

sinkronisasi/sin·kro·ni·sa·si/ n 1 perihal menyinkronkan; penyerentakan: dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, semua unsur departemen wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan –; 2 penyesuaian antara bunyi (suara) dengan sikap mulut atau mimik (tentang film): — bunyi (suara) dengan sikap mulut harus diperhatikan

**
Dan kalau kita mau sedikit meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang sudah kita lakukan, baik dalam state meditasi dan/atau lamunan, kita akan menyadari bahwa kejadian yang terjadi setiap hari merupakan bentuk penyelarasan akan apa yang kita percaya sebagai jalan kehidupan (baca: harapan dan/atau keinginan) dengan kenyataan yang terjadi. Contohnya adalah: saat kita datang pada pertemuan yang mungkin secara keinginan, kita mau berkenalan dengan banyak orang (baca: networking), namun kenyataannya, akan ada pribadi-pribadi di pertemuan tersebut yang membuat kita tidak hanya sebatas networking dengannya namun bisa lebih jauh dan dalam dari hal tersebut.

Kesimpulan:
Tidak ada pertemuan (bahkan dengan abang bakso sekalipun) yang tidak memiliki arti. Kita hanya perlu mengasah indera kita dan menjadi peka dengan apapun yang terjadi (dan akan berlanjut) dalam pertemuan tersebut. 

we dont meet people

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s